RSS

Konsep Kewalian dalam Islam

Pengertian Wali Allah
Wali adalah salah satu dari sekian banyak konsep di dalam Islam. Mereka adalah orang yang dekat kepada Allah dan merupakan orang yang dikasihi oleh-Nya. Oleh karena itu, seorang wali memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain pada umumnya.
Namun demikian, sejak zaman dahulu hingga saat ini, banyak oknum-oknum yang menipu masyarakat awam dengan berpura-pura menjadi wali, dalam upaya mencapai tujuan-tujuan pragmatis tertentu.
Oleh karena itu, merupakan hal yang mendesak untuk dipaparkan tentang hakekat wali Allah berdasarkan al-Qur’an dan Sunah, serta dengan merujuk terhadap para ulama yang otoritatif di kalangan Ahlusunah wal Jamaah, agar masyarakat bisa membedakan siapa yang wali sebenarnya dan siapa yang hanya mendaku sebagai wali alias wali palsu.
Dalam hal ini, al-Qur’an dengan sangat jelas dan gamblang menyatakan bahwa yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang selalu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Allah berfirman tentang para wali Allah dalam al-Qur’an al-Karim yang artinya:
“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan tidak pula berduka cita. (Wali-wali Allah) yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Mereka mendapat berita gembira (kemenangan) di dunia dan (kebahagiaan) di akhirat. Tidak ada perubahan janji-janji Allah. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus [10]: 62-64).
Berdasarkan ayat inilah, para ulama mengemukakan beberapa pengertian waliyullah. Al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, ulama sufi terkemuka, menguraikan definisi wali Allah dalam tafsirnya sebagai berikut:
“Firman Allah: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah mereka tidak merasa takut dan tidak pula berduka cita.” Wali adalah orang yang selalu taat kepada Allah tanpa diselingi dengan perbuatan maksiat. Boleh juga yang dimaksud wali adalah orang yang selalu memperoleh kebaikan Allah dan anugerah-Nya. Demikian juga wali berarti orang yang dilindungi dalam seluruh waktunya dari berbagai ujian. Dan ujian yang terberat adalah melakukan maksiat. Allah senantiasa melindunginya dari ketergelinciran. Apabila nabi itu harus ma‘shûm, maka wali itu harus mahfûzh.”
Selanjutnya, al-Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa perbedaan mahfûzh dan ma‘shûm. Ma‘shûm adalah orang yang tidak pernah terbesit dalam hatinya untuk melakukan dosa. Sedangkan mahfûzh kadangkala melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Dan terkadang dia tergelincir, tetapi tidak terus menerus.
Al-Imam Syihabuddin Ibnu Hajar al-Haitami, ulama fikih terkemuka mazhab asy-Syafii dalam kitab al-Fath al-Mubin Syarh al-Arba’in menjelaskan tentang maksud wali Allah .
“Yang dimaksud wali di sini ialah orang yang dekat kepada Allah , karena ia mendekatkan diri dengan cara mengikuti segala perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya, memperbanyak ibadah-ibadah sunah, dia tidak pernah meninggalkan dzikir kepada Allah SWT, dan hatinya tidak pernah melihat selain keagungan Allah, karena ia tenggelam dalam cahaya ma’rifat kepada Allah SWT. Ia tidak melihat kecuali tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tidak mendengar kecuali ayat-ayat-Nya. Tidak berbicara kecuali memuji kepada Allah SWT. Tidak bergerak kecuali dalam ketaatan kepada Allah SWT. Dan inilah sebenarnya orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an: “Orang-orang yang menjadi kekasih-Nya, hanyalah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Anfal [8]: 34).
Karena kedekatannya kepada Allah SWT itu, para wali selalu menghindarkan dirinya dari sesuatu yang diharamkan. Begitu pula yang dimakruhkan. Bahkan beberapa hal yang mubah sekalipun ada yang dihindari. Al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmid-Dîn menjelaskan:
“Perbuatan yang mubah apabila dilakukan orang awam, adalah suatu keburukan jika dikerjakan oleh orang mu’min yang berbakti. Dan kebaikan yang dilakukan oleh seorang mu’min yang berbakti, bernilai sebagai keburukan bagi orang-orang yang dekat kepada Allah SWT (Waliyullah).”
Dalam hal ini al-Imam al-Ghazali memberikan perbandingan ketika ada seorang pengemis meminta-minta kepada rakyat jelata dan kepada pejabat, kemudian keduanya sama-sama memberikan sepotong roti, dengan kualitas yang rendah. Bagi si rakyat jelata, itu adalah perbuatan yang sangat mulia. Namun tidak pantas diberikan oleh seorang pejabat. Karena tidak sesuai dengan kedudukannya yang menempati kelas atas dalam kehidupan sosial.
Demikian pula dengan seorang wali Allah. Dengan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah SWT, maka apa yang sebenarnya boleh dikerjakan oleh orang awam, menjadi tidak layak dilakukan oleh wali Allah. Misalnya menyantap makanan dan minuman yang lezat sepuas-puasnya adalah hal yang mubah bagi orang kebanyakan. Namun itu menjadi tidak pantas jika dilakukan oleh seorang wali Allah.
Pedoman utama mereka dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT adalah syariat. Seorang yang sampai pada derajat kewalian akan selalu berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama dalam Islam. Sudah barang tentu di dalam mengamalkan syariat tersebut selalu dilandasi dengan ilmu yang memadai. Beramal tanpa ilmu selain mudah terjerumus pada kesesatan, amalnya juga tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Kata al-Imam al-Junaid al-Baghdadi yang bergelar Sayyiduth-Thâ’ifah, yang berarti pemimpin dan rujukan para ahli tasawuf:
“Barang siapa yang tidak bisa memahami hukum-hukum al-Qur’an dan Hadis, dia tidak boleh dijadikan panutan dalam persoalan ini (tasawuf), karena ilmu kami para ahli tasawuf itu bersumberkan dari al-Qur’an dan as-Sunah.”

Tanda-tanda Wali Allah
Pada hakekatnya, kewalian seseorang itu hanya diketahui oleh Allah SWT, dan para wali-Nya yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk mengetahui. Dalam hal ini, ada sebuah pameo yang populer di kalangan ahli tasawuf yang berbunyi, “laa ya’rifu al-waliy illa al-waliy, (tidak akan tahu kepada kewalian seseorang kecuali sesama walinya)”.
Namun demikian, ada beberapa tanda-tanda lahir yang dapat dijadikan pedoman untuk menilai kedekatan seseorang kepada Allah SWT, sehingga mengantarkannya kepada pangkat waliyullah. Berdasarkan beberapa Hadis Nabi SAW, al-Imam al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbihani menyebutkan beberapa tanda kewalian seseorang, dalam kitabnya Hilyatul-Auliyâ’ wa Thabaqâtil-Ashfiyâ’. Di antaranya:
1. Punya Kharisma dan Dipatuhi Masyarakat
Di antara sifat dan tanda-tanda wali Allah adalah mempunyai kharisma dan dipatuhi masyarakat. Ia akan menjadi rujukan orang-orang baik dan orang-orang shaleh. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
“Dari Umar bin al-Khaththab RA, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada manusia yang bukan nabi dan bukan syuhada’. Derajat mereka menjadi perhatian para nabi dan syuhada’. Seorang laki-laki bertanya: “Siapa gerangan mereka itu dan apa pula amalnya? Barangkali kami bisa mencintai mereka.” Rasulullah SAW menjawab: “Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena rahmat Allah SWT, tanpa ada hubungan darah di antara mereka, dan bukan karena harta benda yang saling diberikan di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka bagaikan cahaya. Mereka akan berada di atas mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika manusia ketakutan dan tidak merasa sedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah SAW membaca (QS. Yunus [10]: 62): “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah mereka tidak merasa takut dan tidak pula berduka cita.”
2. Menjadi Sumber Inspirasi Perbuatan Baik
Al-Imam al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbihani berkata:
“Di antara sifat-sifat para wali Allah adalah, bahwa mereka dapat membawa orang-orang yang bersama mereka untuk berdzikir kepada Allah secara sempurna dan mempengaruhi mereka untuk selalu berbuat kebajikan.”
Hal tersebut berdasarkan Hadis Rasulullah SAW:
“Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, berkata: “Rasulullah SAW pernah ditanya: “Siapakah para wali Allah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang apabila dilihat, maka orang yang melihatnya akan ingat kepada Allah.”
3. Tidak Melaksanakan Perbuatan Tercela dan
Hal tersebut berdasarkan Hadis Rasulullah SAW:
“Dari Ibnu Umar RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki kekasih di antara hamba-hamba-Nya. Mereka selalu diberi rahmat-Nya dan hidup dalam perlindungan-Nya. Apabila mereka wafat, dimasukkan ke dalam surga-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selamat ketika berbagai fitnah mendera banyak orang.”
4. Tidak Materialistis
Hal ini berdasarkan Hadis Rasulullah SAW
“Dari Abu Hurairah RA, berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Terkadang orang yang rambut dan pakaiannya lusuh serta dilecehkan oleh banyak orang, namun apabila dia berdoa kepada Allah, pasti dikabulkan.”
Demikianlah beberapa tanda wali Allah SWT yang disebutkan oleh al-Imam al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbihani, seorang ulama sufi, dalam kitabnya Hilyatul-Auliyâ’ wa Thabaqatul-Ashfiyâ’.
Sementara itu, dalam kitab yang berbeda, al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi menyebutkan tentang ciri-ciri seorang wali Allah sebagai berikut:
“Tanda-tanda wali Allah ada tiga. Aktivitasnya hanya untuk Allah SWT, segala urusannya dikembalikan kepada Allah SWT dan cita-citanya (semangat juangnya) hanya untuk Allah SWT semata.”
Pernyataan al-Imam al-Qusyairi ini memberikan kesimpulan bahwa ciri-ciri seorang wali Allah adalah orang yang menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dari semua yang dikerjakannya. Tidak ada ambisi keduniaan semisal untuk dihargai dan dimuliakan manusia. Tetapi yang dicari adalah penghargaan dari Allah SWT.

M. Idrus Ramli *)

diambil dari : http://www.facebook.com/buletinsidogiri/posts/1709874363695

 
Leave a comment

Posted by pada 29 Desember 2011 in Islam

 

Kaitkata: , , , ,

Darsem, sang TKW yang “bebas” dan yang “diancam”

Lain dulu, Lain sekarang

Ketenangan Darsem, mantan tenaga kerja wanita (TKW) yang lolos dari hukuman pancung di Arab Saudi, mulai terusik. Itu setelah ia menerima sebuah surat yang mengatasnamakan ratusan ribu masyarakat dari Jakarta, Depok, dan Tangerang, yang memberi sumbangan pada Darsem.

Entah benar atau tidak, yang jelas surat itu berisi ancaman bahwa mereka akan menarik dana sumbangan yang telah diterima Darsem. Itu jika mantan TKW ini menggunakan dana tersebut, untuk berfoya-foya dan bukan membantu TKI lainnya.

Sementara itu, Darsem yang sudah kembali rujuk dengan suaminya, Samudin, kini sedang sibuk menggelar pesta sunatan anaknya selama dua hari dua malam sejak Sabtu (17/9) hingga Senin besok. Untuk acara itu ia sudah menyiapkan anggaran Rp 50 juta.

Perilaku Darsem mulai berubah ketika ia menjadi kaya mendadak setelah menerima uang Rp 1,2 miliar sumbangan pemirsa televisi yang bersimpati atas nasibnya. Lepas dari hukum pancung setelah ditebus Rp 4,7 miliar oleh pemerintah, Darsem malah membeli gelang dan kalung emas serta rumah baru. Sejumlah orang langsung bereaksi dan menganggap Darsem tidak bijak menggunakan uang hasil sumbangan.

sumber : http://id.berita.yahoo.com/dinilai-foya-foya-darsem-diancam-donatur-223900175.html

secara moral, memang menurut saya pribadi berpendapat bahwa Darsem lupa akan masa kritisnya ketika menghadapi hukuman pancung di tanah Arab. 4miliar lebih dikeluarkan Pemerintah demi kebebasannya dan setelah dia mendapat kebebasan dia juga mendapatkan dana sumbangan simpatisan kepada Darsem yang hampir dua miliar jumlahnya tetapi sungguh seakan tak ada pengaruh untuk mengetuk hatinya berubah menjadi lebih baik seperti yang diharapkan banyak masyarakat Indonesia. Jangankan menjadi lebih baik, kini sifatnya semakin tak memperdulikan peristiwa masa lalunya yang hampir mencabut nyawanya dan menggunakan dana sumbangan untuk memperkaya diri dan berfoya-foya dengan dalih uang itu sudah menjadi haknya. Sebuah kenyataan yang membuat para penyumbang kecewa atas perilakunya sehingga muncullah ancaman penarikan dana sumbangan itu.

Namun yang lucu dari kejadian ini, seseorang yang menyumbangkan hartanya kepada orang lain dengan niat awalnya memang diberikan kepada orang tersebut tetapi kini mau diminta lagi, berarti nyumbangnya gak ikhlas dong??? hehehe

 
Leave a comment

Posted by pada 21 September 2011 in Campuran, World Story

 

Kaitkata: , , , ,

KISAH RABIAH AL-ADAWIYAH – Bagian 3 (SUARA DAN WAJAHNYA YANG CANTIK)

Tak kuasa menahan tawa yang cukup menggelikan, mulut Rabiah terbuka sehingga terdengarlah tawanya dari balik ruangan utama di belakang pintu sampai di ruang utama tak terkecuali Khalil sang pemilik tempat. Segera Khalil berdiri naik pitam sambil memasang wajah yang sangat marah meminta perempuan yang menertawakan Dalaal untuk menggantikannya bernyanyi dengan ancaman apabila tak lebih baik dari Dalaal maka akan mendapatkan siksaan.

 

Entah mungkin begitu tak sedapnya suara Dalaal sehingga membuat Rabiah tetap tertawa meski mengetahui bahwa Khalil sangat marah. Dengan sedera Bapak angkat Rabiah yang mengantarkannya menghampiri Rabiah dan menurutnya ini saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya. Rabiah bersedia maju ke hadapan Khalil dan para saudagar lainnya untuk bernyanyi menggantikan Dalaal yang ditertawakan banyak orang. Ditutuplah wajah Rabiah yang cantik mengunakan kerudungnya kemudian digiring oleh sang Bapak angkat ke ruang utama.

 

Khalil semakin penasaran siapa gerangan yang dengan tidak terpuji berani menertawakan Dalaal. Diperintahkannya Bapak angkat untuk membuka kerudung yang menutupi wajah Rabiah dan dengan segera pula dilaksanakannya. Ketika kerudung itu terbuka maka terlihatlah wajah Rabiah yang cantik dan menawan. Semua yang hadir ditempat itu sempat terperangah melihat kecantikan gadis ini tidak terkecuali Khalil, hanya saja Khalil masih memendam amarah dan tidak yakin kepadanya apakah mampu lebih baik dari Dalaal. Khalil segera memerintahkan untuk bernyanyi dan memperkenalkan diri. Diperkenalkan oleh Bapak angkatnya bahwa gadis ini bernama Rabiah anak angkatnya.

 

Ketika semua terdiam, mulailah Rabiah bernyanyi dengan sangat percaya diri (di dalam film ini disuarakan oleh Ummu Kultsum yang bersuara indah). Subhanallah, tidak hanya kecantikan wajah Rabiah yang membuat semua orang yang hadir disitu takjub kepadanya, tetapi suara indah nan merdunya juga seakan menghipnotis mereka ditambah lagi syair yang dibawakannya cukup indah jauh labih baik dari Dalaal. Tak satupun orang yang hadir ingin meninggalkan tempat itu hanya karena ingin mendengarkan Rabiah bernyanyi sampai usai. Di tengah-tengah Rabiah bernyanyi, dia teringat Bapak angkatnya mengatakan bahwa salah satu saudagar yang hadir di tempat itu adalah Ishomuddin sang pujaan hatinya, namun hingga nyanyian selesai dibawakannya tak kunjung jua Rabiah melihat wajah Ishomuddin. Sangat disayangkan juga oleh para saudagar yang hadir karena keindahan suara dan syair yang dibawakan Rabiah hanya sekali saja dan langsung dihentikan oleh Bapak angkatnya sambil menutup kembali wajah Rabiah dengan kerudungnya dan diminta untuk kembali ke balik pintu.

 

Dari balik pintu Rabiah masih mengintip saudagar yang hadir barangkali disana hadir Ishomuddin, namun untuk keduakalinya Rabiah mencari Ishomuddin dia tersadar bahwa telah ditipu oleh Bapak angkatnya. Kekecewaan Rabiah belum disampaikan ke Bapak angkatnya tapi malah kabar mengejutkan saat itu membuat hati Rabiah semakin terluka karena sang Bapak angkat mengumumkan di tengah-tengah para saudagar yang masih penasaran dengan Rabiah bahwa telah menjadikannya sebagai barang lelang yang diperebutkan oleh para saudagar Basrah. Rabiah tak percaya Bapak angkatnya melelangnya ke para saudagar Basrah, Rabiah menangis, Rabiah bersedih, meratapi nasibnya yang merasa dipermainkan apalagi ternyata Ishomuddin yang dijanjikan ternyata tidak dilihatnya diapun pulang tanpa mau mengetahui siapakah saudagar yang akan memilikinya nanti. Inilah kesedihan pertama di Basrah yang dialami Rabiah.

 

Harga lelang pertama dibuka sebesar 500 dinar banyak yang menyanggupi maka ada yang mau menggantinya 800 dinar. Sahut-sahutan saling menaikkan harga demi Rabiah terjadi. Khalil ternyata tak mau kalah, ia ikut meramaikan lelang Rabiah dengan memberikan harga tertinggi yakni 5000 dinar. Para saudagar yang lain seakan tak mau lagi menaikkan harganya. Ketika lelang akan segera diputuskan milik Khalil, tiba-tiba dari ruangan lain ada yang berteriak “7000 dinar”. Semua langsung mengarahkan pandangannya kepada pemilik suara itu yang ternyata adalah Ishomuddin.

 

Ishomuddin memang datang terlambat tetapi dia masih sempat melihat Rabiah bernyanyi meskipun hanya pada bagian akhirnya saja.

 

Khalil tak mau kalah lagi, dia menaikkan harga menjadi 10.000 dinar dan yakin harga itu tidak akan ada yang mampu melebihi lagi. Ternyata salah, Ishomuddin menutup harga terakhir demi Rabiah sebesar 20.000 dinar. Usai sudah pelelangan panjang malam itu. Khalil mengaku tak berani menaikkan harga lagi dan memberi selamat kepada Ishomuddin yang dianggapnya sekarang lebih kaya darinya namun Ishomuddin bukan tipe orang yang sombong, dia hanya mengatakan malam itu adalah sedang beruntung saja. Perkumpulan segera bubar karena sudah terlalu larut malam. Khalil sangat kecewa kalah dalam perebutan Rabiah, Ishomuddin tak pernah kecewa dengan 20.000 dinarnya karena Rabiah telah didapatkannya, bagaimana nasib Rabiah sendiri di rumah yang sudah pulang terlebih dahulu????

Kisah selanjutnya….
Kisah sebelumnya….

 
Leave a comment

Posted by pada 24 Maret 2011 in Islam

 

Kaitkata: , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.