Perlombaan Menggambar Nabi Muhammad. Ujian Iman ataukah ujian Kesabaran?????

Posted on

Akhir-akhir ini kita pasti sudah mendengar berbagai kabar baik dari media cetak, elektronik, maupun melalui dunia maya internet tentang adanya perlombaan yang terbuka untuk umum. Lomba kali ini bukan lomba tebak-tebakan atau kuis hiburan yang bisa diikuti oleh semua orang. Malahan lomba ini mendapat kecaman khususnya dari kaum Muslim sedunia karena lomba tersebut bertemakan Kartun Nabi Muhammad alias perlombaan menggambar Nabi Muhammad SAW yang selama ini dan sampai kapanpun dimulyakan ummatnya termasuk menjaga kemulyaan fisik Nabi yang sangat tidak patut bagi ummatnya untuk menggambarkan sedikitpun wajah agung beliau.

Kasus semacam ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali muncul. Beberapa tahun yang lalu juga ada beberapa orang yang dengan sengaja membuat komik bertemakan terorist dan dalam komik tersebut terdapat gambar orang yang diberi nama Mohammed. Konon katanya tidak hanya sekedar menggambarkan sosok Nabi saja tetapi juga ada kata-kata menghina yang sangat menyakiti hati ummat Muslim sedunia dan tidak ketinggalan pula yang ada di Indonesia, Demo, aksi, ataupun sedikit kerusuhan sempat marak setelah adanya kasus tersebut mencuat di media masa.

Sebenarnya reaksi yang muncul sangat beragam. Ada yang mendukung sehingga ikut-ikutan menggambar, ada yang menolak sambil Aksi ataupun Demo yang berjalan rapi dan damai, ada yang menolak dengan aksi atau demo yang sedikit anarkis, ada juga yang tidak menghiraukannya dengan alasan itu adalah kejadian yang tak perlu ditanggapi karena hanya memancing emosi ummat Muslim. Yang jelas perbedaan pendapat selalu ada meskipun diantara ummat Muslim sendiri. Lantas, reaksi yang bagaimanakah yang harus kita tunjukkan????? Tentunya sebagai ummat muslim khususnya.

Di dalam ajaran Islam dijelaskan kita tidak boleh menyerang suatu kaum kecuali mereka yang menyerang terlebih dahulu. Begitu juga kita tidak boleh saling menyakiti kecuali mereka yang mendahului menyakiti. Bicara tentang bolehnya kita membalas atau menyerang musuh Islam yang bertindak kurang baik terhadap ummat Islam memang tidaklah dilarang asalkan bukan ummat Islam yang mengawali. Bahkan dalam hukumnya diterangkan “hidung dibalas dengan hidung, mata dibalas dengan mata… dst” yang mempunyai arti adanya hukum yang adil dalam agama Islam. Namun dalam kenyataan yang terjadi di Indonesia khususnya, tidak jarang aksi protes maupun demonstrasi dari media internet dibalas dengan tindak anarki dan kekerasan. Bahkan, salah satu kelompok yang mengatasnamakan Islam membalasnya dengan serangan BOM yang justru korbannya juga terdapat anak kecil, perempuan, atau sesama muslim sendiri. Ironisnya, balasan semacam itu mereka anggap sebagai balasan yang setimpal. Apakah ada perubahan dengan serangan yang tidak sama?????

Yang terjadi malah sebaliknya. Musuh-musuh Islam semakin membenci dan semakin membuat serangan-serangan yang membuat gerah dan emosi ummat Islam. Dan itupun terjadi lagi saat ini. Tetapi serangan mereka bukanlah serangan fisik, melainkan berupa serangan teknologi digital dengan memanfaatkan Facebook sebagai alat penyerangnya. Kalau sudah demikian, apakah balasan fisik (kekerasan) bisa dibilang efektif??????

Marah dan tersinggung adalah kata yang tepat atau reflek yang wajar (atau mungkin wajib) bagi ummat Islam ketika ada yang menghina-hina ummat Islam. Namun apakah kesabaran tidak lebih baik dari marah dan tersinggung????

Banyak sekali hadits Nabi menganjurkan tentang kesabaran. Bahkan di Al-Qur’an sendiri tidak sedikit yang menyinggung kesabaran. Betapa besarnya arti kesabaran tetapi betapa sulitnya kesabaran dilaksanakan. Tapi kesabaran sering disalahartikan sebagai sebuah tindakan yang menerima apa adanya tanpa ada sebuah tindakan. Pandangan seperti ini adalah salah tentang kesabaran. Sabar memang menerima keadaan tetapi tidak menafian sebuah tindakan termasuk melawan. Yang sulit dibedakan adalah melawan dengan kesabaran dan melawan dengan emosi (nafsu). Melawan dengan kesabaran dilaksanakan benar-benar sepenuh hati karena Allah swt. Tetapi melawan dengan emosi (nafsu) sangat dekat dengan godaan syeitan. Antara hati dan syeitan (nafsu) sangatlah dekat. Untuk itu kita harus benar-benar dapat menjaga hati ini agar dekat kepada Allah, bukan dekat kepada nafsu.
Dalam hadits yang sering kita dengar Nabi bersabda setelah sibuk dalam peperangan “Kita kembali dari perang yang kecil menuju perang yang besar, yakni perang melawan Nafsu”.

Sungguh dalam kasus kali ini kita harus benar-benar bisa membedakan antara ujian kesabaran ataukah ujian iman???? Barangkali kasus yang muncul saat ini adalah merupakan ujian iman sekaligus ujian kesabaran. Sebagai ujian iman, kita memang diuji dengan keteguhan hati kita terhadap keimanan kita kepada Nabi Muhammad SAW seberapa besar kita membela kemulyaan beliau. Sebagai ujian kesabaran, kita saat ini diuji dengan bagaimanakah respon kita menangapi kasus yang melecehkan Islam melalui teknologi digital. Yang jelas intinya di dalam tulisan ini tidak menghendaki adanya balasan yang berupa kekerasan fisik tetapi balasan yang dipikir secara bijaksana yang mampu menghentikan mereka tanpa ada kekerasan.

Yang patut kita cotoh saat ini adalah respon yang ditunjukkan oleh Pakistan dan Malaysia yang menutup akses Facebook tersebut sehingga tidak ada yang dapat mengikuti ataupun ikut melihat karya-karya biadab mereka.

indahnya perdamaian

Mudah-mudahan respon di Indonesia tidak sampai memunculkan sebuah tindakan kekerasan atau anarkis sehingga tidak merusak stabilitas keamanan dan ketentraman yang saat ini sudah dirusak oleh para teroris yang tidak bertanggungjawab.

2 thoughts on “Perlombaan Menggambar Nabi Muhammad. Ujian Iman ataukah ujian Kesabaran?????

    LUTHFI said:
    15 Juni 2014 pukul 5:30 am

    para ulama khan iman nya tinggi. tp kok gw lihat, hdup mrk enak spt nggk mengalami ujian. mrk mudah dpt jodoh, rejeki, dihormati, disegani dll. tp gw yg iman nya rendah malah diuji dg berat. gw saat kecil sering sakit sakitan shg fisik jadi lemah, shg gw kalau sekolah, krja, olahraga, bergaul gw jd ejekan. gw juga sering dijahati org, spt.. diremehkan, ditipu, difitnah, dipukul dll. gw juga sulit dpt jodoh dan rejeki. semakin lama semakin sulit. gw di perantauan sering dijahati org dan sering ditolak cewek. gw di kampung halaman nganggur dan jomblo berthn thn, gw terkucilkan masyarakat, gw punya teman sngt sedikit tp rese rese dll. gw org nya bodoh dan lemah shg mengalami ujian spt ini. seandai nya gw pandai dan gagah perkasa mungkin ujian nya gw bergelimang harta, tahta dan wanita. org2 yg lbh shaleh atau lbh bejat dari gw, ujian nya mrk tdk spt gw, krn mrk bukan org bodoh dan lemah. mrk org normal. ujian yg spt gw hadapi khusus buat org bodoh dan lemah.

    muhammad541d responded:
    19 Juni 2014 pukul 11:56 am

    hmmmmmm… kayaknya ada kesamaan juga tuh dg saya…🙂
    tapi alhamdulillah, saya tidak mnyerah dg banyaknya cacian dan makian yg dilontarkan kepada saya.. justru lambat laun saya dapat belajar untuk menerima mereka yg sering menghina saya dg bdoa smoga mereka menjadi teman saya.. alhamdulillah, lambat laun pula mereka dapt menerima saya biarpun tetep ada yg tak mau dg keberadaan saya.. hehehe
    kalo boleh saya berpndapat, kemudahan dapat berarti 2 hal : 1. sebagai hadiah hasil usaha di masa lalu, atau 2. sebg ujian cobaan
    1. sebagai hadiah; sbaiknya kita tdk berpikiran hidup enak adalah keturunan atau hidup enak bukan berrti didapat dg bgitu mudahnya, cba kita lihat masa lalunya knp bisa menjadi hidup enak
    2. sebagai cobaan; coban atau ujian bukan cuma yg “dirasa” berat buat kita, kenikmatan sejatinya juga termasuk cbaan mnusia apakh mnambah rasa syukurnya atau malah lalai dg Tuhannya
    semangatlah mas luthfi… diantara keburukan yang kita alami, yakinlah ada kenikmatan yg belum kita ketahui🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s