“Selembar Kertas Berstempel” menghalangiku

Posted on Updated on

Allahu a’lamu bil-ghoib
Allahu A’lamu bil-Qodri

Seringkali diri ini terhanyut dalam lamunan ingin mejadikannya sebagai cita-cita yang dapat terwujud di masa depan. Padahal kita jelas tidaklah mengerti dan tau apa yang akan menimpa kita di masa yang akan datang baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Tapi, inilah yang saat ini terjadi. Kebingungan, kebimbangan, dan keresahan menghampiri hati dan otak ini. Takdirkah? atau Nasibkah? itulah pertanyaan yang sempat terbesit menyertai usaha untuk selalu mengembalikan urusan ini kepada Allah.

Diawali oleh perasaan yang ingin kenal lebih dekat sejak “pandangan pertama” namun di luar kehendak pribadi ada sebuah petimbangan lain yang juga harus jadi patokan memutuskan suatu masalah yakni musyawarah dengan keluarga. Diri ini hanyalah seorang yang tanpa memiliki ilmu dan derajat kealiman yang lebih tinggi daripada orang yang mampu mencuri hati lewat pandangan pertama. Seorang yang hafal al-Qur’an wajah yang menawan dan akhlak yang santun menjadi pertimbangan pribadi untuk ingin lebih dekat. Namun apalah dikata keluarga tidak menghendaki karena alasan “Selembar Kertas Berstempel” yang tidak dimilikinya.

Sabar dan sabar serta berdo’a kepada Allah agar ada jalan keluar. Meskipun demikian, hati ini terbesit ketakutan yang menjadikanku seorang yang kurang percaya diri. Apakah kesabaranku akan berakhir dengan kenyataan yang baik? ataukah aku akan kehilangan apalagi tanpa mendapatkan yang lebih baik? pertanyaan ini selalu muncul ketika kedua mata ini melihatnya dari jauh maupun sekedar melihat fotonya.

Tak ada tanda yang lebih baik dari keadaan yang kualami membuat hati ini perlahan-lahan mengikhlaskan dan menjadikannya seperti saudara sendiri mungkin itulah yang akhirnya aku pilih. Percakapan yang dulunya saja jarang kini sudah idak pernah sama sekali dan Foto yang dulu tersimpan dalam hardisk laptop kuhapus seluruhnya tanpa tersisa satupun sehingga lama kelamaan aku menduga dan mendoakan dia mendapat calon pendamping yang jauh lebih baik dariku.

Kabar telah kudengar dia akan segera menuju pelaminan. Bukan sedih yang kurasakan justru bahagia mendengarnya karena akhirnya aku tak akan memikirkan dia lagi dan sudah bukan lagi menjadi masalah yang harus aku pikirkan.

Sore hari aku mampir ke rumah saudaraku yang kebetulan dulunya sangat dekat dengan dia. Tanpa banyak bicara saudaraku mengatakan bahwa dulu aku akan diberikan jalan untuk kenal lebih dekat dengannya, begitu juga sebenarnya harapan orang tuanya juga ingin bisa dekat denganku. Namun itu dulu, sekarang sudah terlanjur gayung tak bersambut. saudaraku mengatakan tidak berani mendekatkan aku karena memang karena “Selembar Kertas Berstempel” yang dipermasalahkan keluargaku.

Kenapa baru bicara sekarang?
Kenapa dengan keadaan tanpa “Selembar Kertas Berstempel” menjadi masalah serius dan mutlak?
Tak punyakah aku hak memilih jalanku sendiri?
Tak cukupkah status Hafal al-Qur’an itu membawa ke “surga”?
Adakah yang lebih baik darinya?
Apakah Tuhan masih menyimpan penggantinya untukku?

Ya Allah ya Rabbiy…
Berilah aku rahmatMu
Kasihilah aku dengan RidloMu
Hiburlah aku dengan Kehendak Baikmu
Jangan jauhi aku
Selalulah ada untukku
Jadikan aku selalu ingat kepadaMu
Berikan aku kekuatan untuk mengembalikan urusan ini padaMu
Ya Rabbiy.. Bimbinglah aku selalu dalam Iman
Ya Rabbiy.. Aku yakin dengan kuasaMu dan KehendakMu kuinginkan lebih baik dari yang kurasakan saat ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s