Salah Membaca Al-Qur’an, Seorang Anak Mendapat Hukuman “Ini”…

Posted on Updated on

BTQ (Baca Tulis Al-Qur’an) atau ada juga yang menyebut BTA kini di beberapa Daerah sudah memasukkannya menjadi mata pelajaran tambahan di sekolah baik yang berstatus Negeri maupun yang Swasta dengan tujuan yang sangat baik yakni menjadikan Peserta Didik mempunyai kompetensi di bidang Membaca atau Menulis al-Qur’an serta tidak dengan serta merta terlepas dari mencintai al-Qur’an setelah belajar di TPQ.

qYa… begitulah sekiranya realitas yang terjadi khususnya di wilayah saya. Ketika anak telah lulus dari SD atau Madrasah Ibtidaiyah kebanyakan dari mereka saat itu pula putus belajar al-Qur’an dari TPQ dengan alasan malu karena sudah besar atau alasan lainnya.

Namun, ada hal yang cukup menarik ketika saya melakukan tes baca al-Qur’an di sekolah SMP tempat saya mengajar. Ada salah seorang anak di kelas 9 yang termasuk kurang mampu atau kurang lancar dalam membaca al-Qur’an. Akhirnya saya menawarkan kepadanya untuk belajar khusus bersama saya di waktu istirahat bertempat di Mushalla sekolah. Sebelum saya mulai untuk pertama kalinya saya bertanya terlebih dahulu kepadanya tentang pengalaman belajar al-qur’an di TPQ. Anak tersebut mengatakan bahwa sejak kelas 4 sudah tidak lagi meneruskan belajar al-Qur’an di TPQ dengan alasan yang cukup membuat saya terheran-heran, prihatin, tidak percaya serta kaget.

Berikut ini percakapan saya dengan anak itu :

Saya    : “Kenapa kamu tidak meneruskan belajar di TPQ”?

Anak   : “Saya takut pak”

Saya    : “Takut kenapa?”

Anak   : “Kalo salah membaca, dipukul pakai PANCI (alat memasak nasi)”

panciSetelah mendengar jawaban anak tersebut, dalam benak saya seakan merasa benar-benar tidak percaya atas jawabannya di zaman seperti sekarang ini masih saja ada yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam mendidik belajar al-qur’an, namun dengan melihat kepolosan jawabannya sepertinya memang itulah yang terjadi padanya. Atas kejadian yang menimpanya itu dia seakan trauma kembali belajar al-Qur’an di TPQ. Tidak hanya itu, ibunya-pun ikut menjadi trauma atas peristiwa yang dialami oleh anaknya sehingga tidak mendaftarkan ke TPQ manapun dengan alasan takut akan terjadi peristiwa serupa yang dialami oleh anaknya.

Al-Qur’an bukan hanya sebagai Kitab Suci yang Mulia, tetapi di dalamnya juga terkandung nilai-nilai adab yang juga mulia sebagai pedoman hidup di dunia sampai kelak di akhirat. Untuk itu cara menyampaikannya pun seyogyanya disampaikan pula dengan cara yang bijak dan baik. Apalagi yang dihadapi adalah usia anak-anak yang seharusnya dididik agar mencintai al-Qur’an dengan cara yang sesuai dengan usianya, bukan dengan cara kekerasan sehingga anak bahkan orang tua menganggap belajar al-Qur’an adalah menakutkan dan sarat dengan kekerasan yang pada akhirnya enggan untuk mempelajari al-Qur’an. Sungguh dampak yang sangat merugikan. Semoga kejadian tersebut sudah tidak lagi diterapkan dimanapun tempatnya dan anda yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmahnya agar menerapkan cara-cara yang baik dan santun dalam mengenalkan al-Qur’an kepada anak-anak sehingga mereka mencintai al-Qur’an.

Semoga catatan singkat ini menjadi sebuah pembelajaran yang berharga buat kita. Amiiin.

 

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dengan kekerasan, tak akan menimbulkan sifat Sayang

 

*Nama lembaga dan pihak yang bersangkutan sengaja kami rahasiakan. Mohon maaf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s