Cerita Islami

Rabiah dan Hiruk Pikuk Basrah

Posted on Updated on

Rabiah berterima kasih kepada Syekh Suban yang menyelamatkan dirinya, dan segera iapun melanjutkan perjalanannya ke Basrah dengan segera ia berangkat dengan bekal semangat dan senang karena terbebas dari pemuda yang mengejarnya.

BasrahAkhirnya sampai juga Rabiah di Basrah. Ketika ada di Basrah begitu takjub hatinya melihat keadaan di sana. Tapi hal itu wajar karena Rabiah berasal dari desa terpencil yang jarang sekali dan jauh dari keramaian. Apalagi melihat banyak pedagang pakaian ataupun makanan yang tidak pernah dijumpainya ketika di desanya. Disaat menikmati keramaian kota Basrah tak disadari oleh Rabiah dia telah diawasi seorang makelar Budak sepasang suami istri.

Suami istri tersebut memperhatikan gerak-geriknya dan mengikutinya kemanapun Rabiah pergi. Beberapa saat kemudian sang suami memutuskan untuk mendekati dan mencoba membujuk Rabiah agar mau mengikutinya dengan berpura-pura akan menjadikannya anak padahal orang itu berniat akan menjadikannya budak dan dijual kepada saudagar di Basrah sehingga dapat ganti uang yang banyak. Rabiah menolaknya dan tidak menghiraukannya serta pergi meninggalkannya. Selamatlah Rabiah dari orang tersebut.

Sesaat setelah menolak bujuk rayu orang tadi, Rabiah dari kejauhan melihat orang menjadi idamannya yakni Ishomuddin sedang menunggang kuda menujua sebuah tempat. Begitu inginnya Rabiah menemui Ishomuddin, ia pun akhirnya mengejarnya. Namun sayangnya sebelum berjumpa dengan Ishomuddin dengan tidak disangka-sangka dia bertemu kembali dengan dua orang pemuda yang mengejarnya sewaktu dalam perjalanan menuju Basrah. Kejar-kejaran terjadi kembali. Rabiah kembali merasa ketakutan dan kebingungan mencari tempat berlindung dari kejaran dua penjahat tersebut. Dan lagi, Rabiah beruntung karena diselamatkan oleh seorang perempuan dan memintanya bersembunyi di rumahnya. Dan kurang beruntung yang kedua kalinya bagi pemuda penjahat yang mengejar Rabiah.

Di dalam rumah wanita itu Rabiah sangat senang karena telah diselamatkan. Begitu juga wanita itu merasakan senang, karena ternyata wanita yang menyelamatkannya adalah istri dari orang yang membujuk Rabiah sewaktu di pusat kota Basrah. Tak lama setelah Rabiah masuk rumah wanita itu, datanglah suami wanita itu dengan merasa senang juga akhirnya mendapatkan orang yang dikejarnya sebagai budaknya.

Di dalam rumah itu, Rabiah menunjukkan dirinya sebagai orang desa yang jarang melihat perhiasan serta makanan yang lezat. Rabiah menghampiri tumpukan gaun-gaun yang indah milik wanita itu. Dengan segera niat busuk semakin kuat. Wanita pemilik rumah itu segera mengatakan kepada Rabiah bahwa gaun-gaun indah itu bisa jadi miliknya asalkan mau menjadi putri angkatnya. Tanpa berpikir panjang Rabiah menyetujui penawaran (bohong) pemilik rumah. Beberapa hari Rabiah ada di dalam rumah itu dengan dimanjakan gaun indah serta makanan yang lezat.

Suatu ketika Rabiah dalam keadaan cintanya memakai gaun yang indah dia sambil bernyanyi menunjukkan kebahagiaan hatinya. Tidak diketahui oleh Rabiah ternyata sedang disaksikan diam-diam oleh suami wanita pemilik rumah. Laki-laki itu sebenarnya kagum atas keindahan suara Rabiah, namun kekagumannya terpikirkan olehnya akan menghasilkan uang yang banyak andai Rabiah mau bernyanyi di depan para saudagar Basrah. Apalagi laki-laki itu mengetahui bahwa nyanyian Rabiah seakan merindukan seorang laki-laki sebagai pendamping hidupnya.

Setelah Rabiah bernyanyi, sang pemilik rumah (laki-laki) membujuk Rabiah agar mau bernyanyi di tempat para saudagar Basrah berkumpul. Mendengar kata saudagar Basrah, Rabiah langsung bertanya apakah di tempat itu ada Ishomuddin yang menyaksikannya dan dijawab dengan kebohongan bahwa dia akan dibawa bernyanyi di depan Ishomuddin dan akan dipertemukan dengannya. Mendengar jawaban yang meyakinkan itu, Rabiah menyanggupi ajakan laki-laki itu serta mempersiapkan dirinya menuju tempat berkumpulnya para saudagar Basrah.

Ibu angkatnya mendandani Rabiah dengan gaun yang indah serta perhiasan dan penampilan yang membuat Rabiah semakin cantik. Dengan berdebar dan senang hatinya, Rabiah merasa benar-benar akan dipertemukan dengan lelaki idamannya Ishomuddin. Berangkatlah ia ditemani laki-laki yang mengaku menjadi ayah angkatnya. Dan memang benar, Rabiah dibawa ke tempat para saudagar Basrah berkumpul mendengarkan para wanita-wanita cantik bernyanyi atau bersyair. Pemilik tempat itu adalah saudagar Basrah yang bernama Khalil. Sebelum Rabiah diminta bernyanyi, dia ditempatkan di belakang pintu tempat utama namun masih bisa melihat kerumunan saudagar dari jendela.

Penampilan pertama malam itu adalah istri dari Khalil sendiri yang bernama Dalaal. Ketika Dalaal keluar dan brada di tengah-tengah saudagar Basrah segera ia bersyair dan bernyanyi. Namun sayang suwaranya bukan membuat para saudagar melayang tetapi malah banyak yang menahan perutnya supaya tidak sampai tertawa keluar terbahak-bahak. Tidak terkecuali Rabiah, ia sendiri merasa geli mendengar suwara Dalaal. Namun sayang, Rabiah tidak bisa menahan ketawanya sehingga ia di belakang pintu tertawa lepas hingga terdengar oleh sang pemilik tempat, Khalil. Khalil merasa tersinggung dan sedikit marah meminta orang yang menertawakannya supaya keluar dan menantang apakah suwaranya lebih baik ataukah lebih buruk dari Dalaal.

—– BERSAMBUNG —–

Seorang gadis mengatakan : “Kenapa Tuhan tidak adil terhadapku????”

Posted on

Iman bisa bertambah dan bisa berkurang
Iman bisa bertambah dan bisa berkurang

Awalnya aku mengira judul yang kutuliskan di atas hanyalah ada di sebuah sinetron. tapi kini ku mengetahui bahwa memang benar-benar ada yang mengatakannya.

Sungguh benar-benar terasa pilu dan sangat mengkhawatirkan. Judul di atas berasal dari sebuah kenyataan yang dialami seorang gadis yang  juga temanku. Sambil menangis dia bercerita kepadaku tentang yang dia alami saat itu. Tak seperti biasanya dia bercerita dengan sungguh-sungguh tapi kali ini memang sangat serius.

Seperti biasanya jika dia ingin bertanya tentang suatu hal kepadaku terlebih dahulu dia sms aku. waktu itu juga dia mengawali sms aku yang isinya minta izin untuk bercerita dan meminta solusi. kubalas smsnya tanda ku bersedia mendengar segala ceritanya karena ku juga sedang gak ada kerjaan.

Beberapa menit kemudian dia membalas sms berisi cerita yang ingin dia sampaikan kepadaku. Aku sangat kaget ketika membaca isi ceritanya. karena dia juga menuliskan “Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku… buat apa aku rajin shalat dan mengaji tetapi tidak merubah keadaan menjadi lebih baik justru sebaliknya menjadi tambah buruk..”. Dia mengatakan itu (setidaknya mirip), karena salah seorang keluarnya menderita sakit yang divonis dokter tidak dapat disembuhkan alias dokter sudah lepas tangan. apalagi orang yang sakit itu adalah orang yang termasuk rajin ibadah dalam keluarganya.

Sejenak ku juga bingung harus kujawab seperti apa. ku takut nanti jawabanku malah membuat dia semakin stress dan tak terkendali. setelah kucoba untuk menenangkan pikiranku akhirnya ku baalas lagi dengan maksud agar dia tidak kelewatan dan masih mempertahankan imannya kepada Allah.

Dalam balasanku kusampaikan agar dia membaca istighfar dan tidak terbawa emosi. tapi kemudian dia kembali membalas dan semakin menunjukkan dirinya seakan ingin tidak percaya kepada Allah. apalagi disertai dengan penderitaan yang sedang dialami salah seorang keluarganya. dia membanding-bandingkan keluarganya yang sakit ibadahnya masih rajin dan jauh lebih baik daripada yang sehat. karena itu dia mempertanyakan buat apa shalat dan mengaji jika tetap menderita.

Cukup repot memang menurutku. tapi aku tidak ingin ikut terbawa emosi. tapi berikutnya kubalas dengan sedikit berlagak seperti orang yang alim (he he he). karena aku ingin dia kembali sadar bahwa dia salah telah mengucapkan kata-kata tidak pantas di atas, kubalik bertanya dengan membalik pertanyaan yang ditanyakan kepadaku. ku balik bertanya “apakah kamu yakin bahwa shalatmu sudah benar???” kutanyakan balik seperti ini dengan logika jika dia mengakui shalatnya sudah benar tak mungkin dia mengeluarkan kalimat yang buruk itu. ku terus memberikan saran kepadanya agar selalu berikhtiar dan bersabar. aku juga mengatakan kepadanya bahwa dibalik penderitaan yang sedang dialaminya pasti ada hikmah yang besar.

Eh….. dia membalas lagi dan bertanya sampai kapan penderitaan ini selesai??? dan kapan hikmah itu datang???

Terpaksa deh ganti aku yang bercerita tentang Nabi Ayub yang menderita sakit bertahun-tahun tetapi dia bersabar. selain itu kupertegas lagi agar dia bersabar dan bersabar dan yakin hikmah itu pasti datang.

Setelah lama smsan dia kelihatannya sudah mulai lunak dan sadar akan kesalahan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya terucap. sebagai akhir saranku kepadanya kukirim pesan kepadanya “Bersabarlah dan berikhtiar maka hikmah itu akan datang. Jika ceroboh dan tidak bersabar, maka hikmah itu akan hilang

Aku menjadi lebih tenang karena setelah itu dia mengatakan terima kasih dan akan mengikuti apa yang aku katakan. sampai saat ini aku masih mendoakan dia agar dia benar-benar terus berdoa, bersabar, berikhtiar, dan tetap menjalankan ibadahnya sehingga doanya terkabulkan dan dia mendapatkan hikmah yang saat ini belum dia dapatkan. semoga hikmah itu cepat datang kepadanya agar dia tetap teguh mempertahankan keimanannya kepa Allah Swt. Amiiiin.

Cerita di atas tidak menyebutkan kalimat yang sebenarnya 100% tetapi hanya sebagian dan asli tanpa ada sifat fiktif.